Kami akhirnya memutuskan pergi ke desa teman saya yaitu di desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB. Perjalanan kami dimulai dari kota mataram, kira-kira perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di kecamatan pujut. Selama perjalanan, saya sangat menikmatinya. Tentu saja dengan suguhan alam yang begitu alami, sawah-sawah yang terbentang sepanjang jalan menambah kesejukan pagi itu. Sesampainya di pujut, saya dan teman-teman saya langsung di arahkan ke Kantor Desa Ketare Kecamatan Pujut, karena kebetulan orang yang memiliki naskah tersebut adalah Sekdes( sekretaris desa ) ketare yang bernama Lalu Mustaan. karena sebelum itu, teman saya menghubungi beliau dan menyetujui kedatangan kami. teman saya masih ada hubungan keluarga dengan beliau.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu melihat langsung naskah kuno yang menjadi warisan leluhur suku sasak khususnya di daerah tersebut. Sebelumnya tujuan kami adalan mencari keberadaan naskah tersebut. kami tidak meminta agar naskah tersebut dikeluarkan atau ditunjukkan kepada kami,namun beliau dengan senang hati menunjukkan naskah kuno tersebut kepada kami. Ketika naskah tersebut dikeluarkan, naskah tersebut terlihat usang dan tua namun tetap terurus dan sudah ada beberapa bagian yang sobek seperti bekas gigi tikus yang usil. kemudian beliau pun bercerita tentang naskah tersebut. Naskah itu adalah naskah Jabalkab atau serat lontar jabalkab yang menceritakan tentang Datu Jayang Ranu dan Datu Jabalkab. Singkat cerita, Datu jabalkab berperang melawan raksasa yang baunya sangat amis, sehingga Datu Jabalkab tak kuasa melawan raksasa tersebut. Bukan karena tak mampu melawan atau kekuatannya lemah, namun karena bau amis yang dikeluarkan oleh si raksasa lah yang membuat Datu Jabalkab dan para prajuritnya mengalah. Kemudian, Datu Jabalkab membawa keluarga beserta rakyatnya mengungsi ke atas gunung. Disanalah sang Datu berunding dengan rakyatnya dan para jin. Sang datu bertanya "wahai rakyatku kira-kira bagaimana lagi kita harus melawan raksasa, sedangkan sudah tak ada lagi yang mampu melawannya karen baunya sangat amis dan busuk" . Salah satu jin pun menjawab "yang mampu melawan raksasa iti adalah anak dari Arya Abdul Mutallib yang bernama Jayang Rane yang berada di makkah". Kemudian Datu mengutus anaknya yang bernama Rada Saktir untuk menjemput Jayang Rane. Singkat cerita pertemuan rada saktir dan jayang rane, Rada Saktir pun berhasil membawa Jayang Rane bersamanya. Sebelumnya, ayah dari jayang rane yaitu Arya Abdul Mutallib memberi tahu Rade Saktir bahwa Jayang Rane mampu melawan raksasa hanya dalam tiga hari saja. Tetapi karena terlalu percaya diri, Jayang Rane gagal melawan raksasa dalam tiga hari. Jayang Rane berhasil mengalahkan raksasa setelah 30 tahun berperang.
Begitulah kisah yang di ceritakan dalam naskah jabalkab tersebut.
Namun, itu belum satu per empat ceritanya. Seperti yang beliau bilang, sehari saja tidak cukup untuk menceritakan kisah yang ada dalam naskah tersebut. Beliau juga masih mempunyai naskah-naskah lain seperti naskah serat bandar sile, bangbarit, rengganis, jati sware, puspe kerme, dulang mas dan masih banyak lagi yang tidak bisa beliau sebutkan. Dalam naskah tersebut kita bisa belajar mengenai akhlak, agama, norma, adat, perilaku dan adab yang baik dan yang bisa dicontoh. Menurut beliau, naskah-naskah yang ia miliki saat ini adalah sebagai titipan dari nenek moyang yang harus dijaga keaslian dan kesakralannya.
Beliaupun bangga bisa menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut. Selain itu, beliau juga dengan suka rela menembangkan atau membacakan naskah tersebut. Selain naskah-naskah tersebut, beliau juga masih mempunyai manuskrip lain yang berbentuk keris peninggalan. Namun, beliau tidak bisa menunjukkan keris tersebut kepada kami.

