Rabu, 13 November 2019


Nyeput, bejeput atau beregem adalah sebuah tradisi suku sasak yang prosesinya sangat unik. Orang-orang atau masyarakat melakukan tradisi ini untuk mencari pencerahan atau jalan hidup yang akan dilaluinya. Tradisi ini berpegang kepada naskah kuno yang kemudian dijadikan sebagai acuan dalam prosesinya.
Saya akan memberikan cerita singkat mengenai perjalanan saya dalam melakukan tradisi ini. pada blog sebelumnya, saya telah menceritakan perjalanan saya dalam mencari keberadaan naskah kuno yang berada di desa ketare, kecamatan pujut. Namun, kali ini tidak lagi di desa ketare akan tetapi di desa bon jeruk kecamatan  jonggat diperjalanan sebelumnya,kami hanya berempat. Namun kali ini teman-teman yang lain juga tertarik untuk mengikuti perjalanan kami. Jadi teman saya bertambah menjadi sembilan orang. Alasan mengapa kami mengunjungi tempat yang berbeda dari yang sebelumnya, karena tempat yang kami kunjungi sebelumnya tidak melakukan tradisi nyeput itu sendiri. Hanya sebagian daerah saja yang masih melakukan tradisi ini. 
Di lombok tengah sendiri, tradisi nyeput ini sudah jarang ditemui, sehingga kami kesulitan mencari daerah yang masih melakukan tradisi nyeput ini. Kami mengetahui informasi mengenai daerah ini dari salah satu teman kami. Sebelumnya kami telah meminta kontak yang bisa dihubungi sehingga bisa mempermudah kami dalam menemukan daerah itu. Kami kemudian mendapatkan kontad dari pak Hasan yang akan membimbing kami dalam tradisi ini. Tidak lupa kami menanyakan persyaratan apa saja yang harus dibawa atau disiapkan jika akan melakukan tradisi ini. kemudian kami mempersiapkan semuanya sebelum berangkat.
Kemudian perjalanan dimulai dari kota mataran ke desa bon jeruk. Di perjalanan, kami tidak mengalami kesulitan apapun. Namun perjalanan kami kali ini sedikit terkendala oleh waktu. Mengingat kami melakukan perjalanan jam lima sore, yang sebelumnya kami telah mengatur rencana untuk berkumpul jam 4 sore. Namun karena saling menunggu akhirnya waktu perjalanan tidak sesuai dengan rencana. Akan tetapi kami tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya kami sampai  juga di rumah pak hasan. Ternyata, disana sudah ada juga yang menunggu yaitu pahk Sahdi. Kami kemudian dipersilahkan duduk dan mulai memperkenalka diri dan menyampaikan tujuan kedatangan kami. Pak Hasan kemudian menanyakan tujuan kami ingin melakukan tradisi ini dan mengapa kami menemui pak Hasan dan bukan yang lain. Kemudian kami menjawab pertanyaan dari pak Hasan. sebelum memulainya, pak Hasan menjelaskan bahwa, di bon jeruk mereka menyebut tradisi ini dengan beregem bukan nyeput yang sebenarnya artinya hampir sama. Tidak lupa pak hasan menjelaskan kepada kami jika tradisi ini bukan diartikan sebagai meramal akan tetapi, kita harus mengartikan tradisi ini sebagai pencerahan hidup atau sebagai pelajaran untuk menghadapi kehidupan. Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui dan bisa mengatur jalan hidup seseorang selain tuhan yang maha esa. Begitulah penuturan singkat dari pak Hasan.
Pak Hasan kemudian menuntun kami untuk memasang niat baik dalam hati dan berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan tradisi tersebut. Ada dua naskah yang disiapkan untuk dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tradisi tersebut. Naskah yang digunakan yaitu naskah rengganis dan naskah asmarandane. Secara bergiliran kami kemudian dituntun untuk melaksanakan tradisi tersebut dengan menutup mata dan hanya bisa memilih salah satu naskah saja. 

Kemudian sembari menutup mata hanya selembar daun lontar saja yang boleh diambil kemudian akan dibacakan oleh pak Sahdi selaku pemaos atau pembaca. Sedangkan, pak Hasan bertugas sebagai penerjemah sekaligus yang mengartikan dalam kehidupan.
Banyak hal unik yang kami jumpai dalam melaksanakan tradisi tersebut, yang mungkin tidak dapat saya ceritakan secara rinci. Waktu saya nyeput atau mengambil selembar daun lontar tersebut, saya memilih tembang asmarandane dan mendapatkan takepan dang-dang. Dalam takepan dang-dang tersebut menceritakan kisah asmara antara dua insan yang telah melebur dalam satu cinta. 


Rabu, 23 Oktober 2019

Naskah Kuno Sebagai Warisan Leluhur

 Perjalanan ini berawal dari rasa penasaran saya akan keberadaan naskah-naskah kuno yang masih tersimpan atau terjaga keasliannya. Apakah tulisan-tulisannya masih terjaga keasliannya, atau telah ditulis kembali. saya kemudian merencanakan perjalanan mencari naskah bersama teman-teman saya. Sebelumnya saya berencana mencari naskah ke Bayan Lombok Utara, namun karena jaraknya terlalu jauh dan akan menghabiskan di perjalanan, akhirnya saya dan teman- saya memutuskan mencari naskah di daerah yang tidak terlalu jauh. Salah satu teman saya kemudian memberikan informasi, jika di desanya masih terdapat naskah atau manuskrip kuno.
   Kami akhirnya memutuskan pergi ke desa teman saya yaitu di desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB. Perjalanan kami dimulai dari kota mataram, kira-kira perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di kecamatan pujut. Selama perjalanan, saya sangat menikmatinya. Tentu saja dengan suguhan alam yang begitu alami, sawah-sawah yang terbentang sepanjang jalan menambah kesejukan pagi itu. Sesampainya di pujut, saya dan teman-teman saya langsung di arahkan ke Kantor Desa Ketare Kecamatan Pujut, karena kebetulan orang yang memiliki naskah tersebut adalah Sekdes( sekretaris desa ) ketare yang bernama Lalu Mustaan. karena sebelum itu, teman saya menghubungi beliau dan menyetujui kedatangan kami. teman saya masih ada hubungan keluarga dengan beliau.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu melihat langsung naskah kuno yang menjadi warisan leluhur suku sasak khususnya di daerah tersebut. Sebelumnya tujuan kami adalan mencari keberadaan naskah tersebut. kami tidak meminta agar naskah tersebut dikeluarkan atau ditunjukkan kepada kami,namun beliau dengan senang hati  menunjukkan naskah kuno tersebut kepada kami.  Ketika naskah tersebut dikeluarkan, naskah tersebut terlihat usang dan tua namun tetap terurus dan sudah ada beberapa bagian yang sobek seperti bekas gigi tikus yang usil. kemudian beliau pun bercerita tentang naskah tersebut. Naskah itu adalah naskah Jabalkab atau serat lontar jabalkab yang menceritakan tentang Datu Jayang Ranu dan Datu Jabalkab. Singkat cerita, Datu jabalkab berperang melawan raksasa yang baunya sangat amis, sehingga Datu Jabalkab tak kuasa melawan raksasa tersebut. Bukan karena tak mampu melawan atau kekuatannya lemah, namun karena bau amis yang dikeluarkan oleh si raksasa lah yang membuat Datu Jabalkab dan para prajuritnya mengalah. Kemudian, Datu Jabalkab membawa keluarga beserta rakyatnya mengungsi ke atas gunung. Disanalah sang Datu berunding dengan rakyatnya dan para jin. Sang datu bertanya "wahai rakyatku kira-kira bagaimana lagi kita harus melawan raksasa, sedangkan sudah tak ada lagi yang mampu melawannya karen baunya sangat amis dan busuk" . Salah satu jin pun menjawab "yang mampu melawan raksasa iti adalah anak dari Arya Abdul Mutallib yang bernama Jayang Rane yang berada di makkah". Kemudian Datu mengutus anaknya yang bernama Rada Saktir untuk menjemput Jayang Rane. Singkat cerita pertemuan rada saktir dan jayang rane, Rada Saktir pun berhasil membawa Jayang Rane bersamanya. Sebelumnya, ayah dari jayang rane yaitu Arya Abdul Mutallib memberi tahu Rade Saktir bahwa  Jayang Rane mampu melawan raksasa hanya dalam tiga hari saja. Tetapi karena terlalu percaya diri, Jayang Rane gagal melawan raksasa dalam tiga hari.  Jayang Rane berhasil mengalahkan raksasa setelah 30 tahun berperang.
Begitulah kisah yang di ceritakan dalam naskah jabalkab tersebut.
 Namun, itu belum satu per empat ceritanya. Seperti yang beliau bilang, sehari saja tidak cukup untuk menceritakan kisah yang ada dalam naskah tersebut. Beliau juga masih mempunyai naskah-naskah lain seperti naskah serat bandar sile, bangbarit, rengganis, jati sware, puspe kerme, dulang mas dan masih banyak lagi yang tidak bisa beliau sebutkan. Dalam naskah tersebut kita bisa belajar mengenai akhlak, agama, norma, adat, perilaku dan adab yang baik dan yang bisa dicontoh. Menurut beliau, naskah-naskah yang ia miliki saat ini adalah sebagai titipan dari nenek moyang yang harus dijaga keaslian dan kesakralannya. 
Beliaupun bangga bisa menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut. Selain itu, beliau juga dengan suka rela menembangkan atau membacakan naskah tersebut. Selain naskah-naskah tersebut, beliau juga masih mempunyai manuskrip lain yang berbentuk keris peninggalan. Namun, beliau tidak bisa menunjukkan keris tersebut kepada kami.